Ponorogo, 06 Januari 2026 – Dalam rangka memperkuat komitmen dalam perlindungan dan pemenuhan hak anak di lingkungan pendidikan, MAN 1 Ponorogo menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Konvensi Hak Anak (KHA) pada Selasa, 6 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung di aula madrasah tersebut dihadiri oleh seluruh kepala atau perwakilan madrasah dalam Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (KKMA) 1 Kabupaten Ponorogo.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Kepala MAN 1 Ponorogo, Ibu Dr.Nurun Nahdliyah K. Y., M.Pd.I yang dalam sambutannya menegaskan bahwa tujuan utama penyelenggaraan bimtek ini adalah untuk membangun kesadaran dan komitmen kolektif antar satuan pendidikan dalam menerapkan prinsip-prinsip pendidikan ramah anak. Hal ini diwujudkan melalui sebuah deklarasi yang menandai ikhtiar bersama untuk menjadikan madrasah sebagai ruang yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang optimal setiap peserta didik.
Sebagai pemateri, hadir Instruktur Nasional KHA, Ibu Bekti Prasetyani, yang menyampaikan materi secara mendalam dan inspiratif. Beliau menekankan bahwa pendidikan ramah anak merupakan bentuk “hijrah hati” bagi satuan pendidikan. “Kita harus menyadari bahwa tidak ada ciptaan Allah yang gagal. Jika terlihat gagal, pasti ada sebab yang menjadikannya demikian. Setiap anak membawa potensi unik dan akan menempati ruang kebermanfaatan tertentu,” ujar beliau.
Lebih lanjut, Ibu Bekti memaparkan bahwa satuan pendidikan ramah anak harus memenuhi empat kluster hak anak dalam KHA, yaitu hak untuk hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan, dan hak partisipasi. Prinsip ini selaras dengan semangat “Panca Cinta” yang diusung Kementerian Agama melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dengan menekankan pendidikan penuh kasih dan penghargaan terhadap martabat anak.
Melalui bimtek ini, manfaat yang diharapkan langsung dapat dirasakan oleh para peserta adalah terkuatnya pemahaman konseptual tentang KHA dan terpetakannya langkah-langkah praktis untuk implementasinya di madrasah masing-masing. Peserta juga mendapatkan panduan untuk mengidentifikasi dan mengembangkan potensi unik setiap siswa, serta menciptakan sistem yang melindungi dan mendengar suara mereka.
Harapan yang disampaikan oleh MAN 1 Ponorogo selaku tuan rumah dan inisiator kegiatan ini sangat besar. Madrasah berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti pada deklarasi, tetapi menjadi awal gerakan nyata yang berkelanjutan di seluruh madrasah KKMA 1 Ponorogo. Diharapkan, setiap madrasah dapat menjadi teladan dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, bebas dari kekerasan, dan memandang setiap anak sebagai anugerah yang berharga.